Rabu, 17 Januari 2018

WISATA PETIK MADU-AGRO TAWON RIMBA RAYA/Jl.Dr.Wahidin 8,Bedali-Lawang/27-12-2017

Kalo kita pengen wisata sekaligus nambah-nambah informasi ... tempat ini bisa menjadi salah satu pilihan yang tepat, loh ...

Mau nambah-nambah info tentang apa, sih ... ???
Selama ini'kan kita taunya cuma mengkonsumsi cairan madu yang sudah dikemas di dalam botol-botol berwarna gelap saja, ya ... Nah, di tempat ini kita bisa menyaksikan dari dekat, loh ... yang namanya si lebah penghasil madu itu sendiri berikut  langsung praktek cara beternak lebah berikut petik madunya juga. Keren, kan ....

Dicatat, ya ...  Nama tempat wisatanya adalah Agro Tawon Rimba Raya dan lokasinya ada di tepi jalan raya Lawang-Malang, tepatnya di belakang deretan ruko Puri Kencana atau di seberang rumah makan/depot HTS yang terkenal onde-ondenya itu, loh ... Pokoknya gampang, deh carinya ...


Trus ... berapa, sih HTM-nya ?
Langsung masuk aja, sih ... gak pake ditarik HTM. Untuk simulasi tentang perlebahan-nya saja, juga tidak dikenakan biaya alias gratis. Tapi kalau kita mau praktek atau edukasi langsung sampai panen madunya baru dikenakan biaya sebesar Rp.15.000,-/orangnya dengan durasi waktu sekitar 1 jam sd. 2 jam (untuk rombongan).

Tempatnya sendiri cukup luas cuma kurang terawat saja, sih ...
Di sini kita juga bisa berfoto dengan menggunakan sekumpulan lebah di seluruh wajah kita dengan biaya Rp.100.000,- Sedangkan untuk berfoto dengan menggunakan sekumpulan lebah di telapak tangan tidak dipungut biaya alias gratis.

Trus di hari Minggu sekitar pukul 10 pagi sampai dengan selesai, pemiliknya yaitu pak Hariono juga akan melayani terapi sengat lebah bagi pengunjung yang mengalami masalah kesehatan. Dan ... (lagi-lagi) tidak dipungut bayaran juga, loh ...
Asek' kan .... ternyata berwisata plus nambah-nambah pengetahuan plus menikmati terapi kok, banyak gratisnya juga, ya ... hehehe ....

Ok ... sekarang kita lihat pengetahuan dasar tentang seluk beluk perlebahan. Ikutin aku terus  ....

Ini lokasi tempat kita belajar pengetahuan dasar tentang lebah, ya ... (Sst... Ini salah satunya yang gratis-gratis itu, loh ... hehehe ...).

Di tempat ini sudah disediakan beberapa kotak lebah bagi pengunjung yang mau ikutan simulasi.
Mas Bobi sudah mulai membuka tutup kotak lebahnya, tuh ...
Ingak ... ingak ... kalo kita lagi berdekatan sama lebah, dilarang melakukan gerak refleks atau memukul lebah yang beterbangan atau malah nempel di badan kita, ya ...

Soalnya mata lebah tuh, punya banyak lensa (kalo mata kita'kan cuma punya 1 lensa saja, ya ...) jadinya, mata si lebah bisa mengikuti arah bayangan kita. Itu kalo gak mau disengat, loh ...

Kotak yang lagi dibuka itu terdiri dari lebah yang asalnya dari Eropa dan Australia, ya ... terdiri dari lebah pekerja (betina) dengan usia 45 hari.
Lebah pekerja ini terdiri dari 5 level :
-level 1 adalah lebah yang baru menetas dengan tugas hanya membersihkan sarang saja;
-level 2 adalah lebah yang bertugas memberi makan larva-larvanya;
-level 3 adalah lebah yang sudah siap menjadi lebah penjaga atau penyengat (hiyyy ....);
-level 4 adalah lebah yang sudah dapat mencari makan sendiri (jarak tempuhnya sd. 2 km dari
                        sarangnya);
-level 5 adalah lebah komando yang siap memberikan tugas kepada lebah level 1 sd. level 4.


Tuh ... kita lihat, kalo madunya sudah terisi penuh, nantinya akan disegel sama lebahnya supaya gak bisa diisi madu lagi. Wow ... pinternya si lebah ...
Ini yang namanya pondasi sarang dengan bahannya yang terbuat dari lilin lebah yang sudah dimasak atau didaur ulang.
Cara kerja lebah itu sangat tertib dan teratur, loh ... Di dalam isi sarang ini sudah diatur kalo sarang 2 baris pertama dipergunakan sebagi tempat madu trus di 2 baris keduanya  sebagai tempatnya madu dan larva. 2 baris ketiga dan keempatnya sebagai tempatnya larva. Jadi gak campur aduk amburadul gitu, deh ... hehehe ...

O'ya ... mungkin masih banyak yang bingung, ya ... apa, sih bedanya lebah sama tawon itu ?
Aku kasih infonya, neh ... kalo tawon itu hamanya lebah, tidak menghasilkan madu dan kalo menyengat bisa berkali-kali ... hadohhh... hadohhh .... Lanjuttt, yuk ....
Itu kepompongnya ratu lebah yang berbentuk memanjang di pinggir kotak. Di dalamnya terdapat royal jelly yang mahal harganya itu ... wow ....

Tugasnya si ratu lebah ini cuma bertelur saja, loh ... dengan usia bisa mencapai 4 sd. 6 tahun dan ukuran tubuhnya bisa 1,5 kali lebih besar dari ukuran tubuh lebah pekerja.

Di dalam 1 koloni lebah hanya dipimpin oleh seekor ratu lebah saja, ya ... Kalo ternyata di satu koloni terdapat 2 ratu lebah, maka keduanya akan saling bertarung untuk memperebutkan koloni.

Tapi kalo lawannya adalah si ratu lebah yang masih produktif tapi sudah tidak kuat bertarung lagi, maka si ratu lebah yang lebih lemah itu akan mengalah dan meninggalkan koloninya (hiks ... hiks ....).

Nah ... di dalam koloni lebah, juga terdapat lebah pejantan yang tugasnya hanya membuahi si ratu lebah dengan usia hanya sampai dengan 60 hari saja, ya ... lalu dia mati, baik sudah membuahi ataupun belum.

Si lebah pejantan ini gak punya sengat, loh ... dengan ciri matanya yang menyatu seperti lalat hijau.

Jadi di dalam 1 koloni lebah terdapat 95% populasi lebah pekerja (betina) dan hanya 0-5% lebah pejantan.

Lanjut, yuk ... sekarang kita mau lihat bedanya lebah lokal dan lebah impor, yaaa ...
Pada masing-masing kotak di bagian ujung bawah sebelah kanannya itu ada lubang sebagai pintu keluar masuknya lebah. Kotak yang lebih besar adalah tempat lebah impor sedangkan kotak yang lebih kecil sebagai tempat lebah lokal.
 
Kalo masing-masing tutup kotaknya dibuka, maka lebah impor yang pulang kembali ke sarang/kotaknya itu akan tertib masuk lewat lubang kecil di bawah kota itu, loh ... 
Hehehe ... beda sama si lebah lokal yang akan langsung nyelonong masuk lewat atas (siapa suruh tutup kotaknya dibuka, ya ....).
 
O'ya ... lebah lokal juga termasuk sangat agresif  tapi sengatannya gak sesakit lebah impor dengan produksi madu yang lebih lama juga (yaitu bisa sampai 1 bulan) dibanding lebah impor (yang produksi madunya cuma sampai 10 hari saja). 

Ini yang namanya Propolis (yang bentuknya bulat hitam di ujung jarti tanganku itu). Dikerik dari ujung-ujungnya sekat-sekat yang ada di dalam kotak lebah.
 
Asalnya dari getah tanaman dan fungsinya sebagai obat (anti oksidan/anti virus) bagi lebah yang sakit (biasanya terdapat kutu di atas kepala lebah) dan sebagai pelindung bagi larva dari serangan kutu, bakteri, jamur, virus (termasuk dari serangan cicak yang memangsa larva).
Jaman dulu orang beternak lebah dari glodogan kayu kelapa dan kayu mundi.
 
Kalo sarangnya semakin menghitam warnanya berarti semakin kuat karena jadi elastis gak gampang dipatahkan. Beda sama sarang yang masih berwarna putih karena rapuh dan gampang dipatahkan.
Hayuk ... sekarang kita mau lihat lebah lokal yang imut-imut bingit kayak semut dan sangat agresif (hiyyy .... seremmmm ...).
Ini yang namanya lebah klenceng, ya ...
Yang bentuknya seperti merica itu adalah kepompongnya sedangkan yang bentuknya seperti lempengan pipih jamur itu adalah sarangnya.
 
Madu yang dihasilkan harganya mahal, loh ... karena semakin kecil lebahnya, semakin bagus juga kualitas madu yang dihasilkan (nektar yang dihisap sedikit, banyak liurnya yang justru kita butuhkan). Di alam, lebah ini hidupnya pada kayu, batu dan bambu.
Nah ... sekarang kita lihat berbagai produk yang berhubungan sama para lebah itu ....
1. BIPOLLEN  ini adalah makanan (lauknya) lebah pejantan dan lebah pekerja, berasal dari serbuk sari bunga;
2. ROYAL JELLY  adalah makanannya lebah ratu, berasal dari air liur lebah dengan harga jual bisa mencapai Rp.1 juta,-/kgnya;
3. PROPOLIS  adalah obat anti virus/anti oksidan bagi lebah yang sakit serta pelindung bagi larva lebah, berasal dari getah tanaman;
4. MADU  adalah makanan (nasinya) lebah pejantan dan lebah pekerja, berasal dari nektar bunga.
Pada dasarnya, fungsi madu adalah sebagai penambah stamina tubuh tapi pada perkembangannya bisa difungsikan sebagai obat alergi dan obat infeksi juga, loh ... Jadi silakan dibeli sesuai dengan kebutuhan masing-masing, ya ...
 
Ini yang namanya madu sarang yang harus segera dikonsumsi cepat-cepat sebelum meleleh. Full madu, tuh ...
Jaring-jaringnya akan terasa seperti benang di dalam mulut, loh ...
Madu sarang ini dihargai Rp.10.000,-/potong.
Kalo ini yang disebut botok tawon, ya ...
Bagi yang punya alergi, mungkin perlu sedikit berhati-hati mengkonsumsinya karena bisa menyebabkan gatal-gatal. Botok tawon ini dijualnya di depot yang menempati ruko di depan tempat wisata petik madu ini, ya ...

Tempat wisata petik madu juga menyediakan berbagai macam kuliner. Coba, deh ... kalo kulinernya berhubungan dengan bahan dasar yang ada madunya, mungkin bisa lebih menarik lagi.
Sekilas mengenai pembuatan pondasi sarang lebah, neh ....
Jadi sarang lebah yang sudah rusak atau tidak dipakai lagi dipanaskan sampai lumat lalu dicetak dalam bentuk lempengan-lempengan dan dibentuk segi enam.
Trus dibingkai dan diletakkan di dalam kotak lebah.
Ini adalah alat pembuat lebah ratu di mana telur asalnya dimasukkan ke dalam sebuah alat pencetak supaya bisa dihasilkan ratu lebah dengan ukuran tubuh yang lebih besar dari lebah pekerja. Wow ... cangih, ya ....

Jadi ... gimana, neh ...
Moga tempat wisata penambah pengetahuan ini bisa menjadi salah satu destinasi wisatamu selama singgah di kota Lawang-Malang, ya ...

 



















Rabu, 10 Januari 2018

KAMPUNG WARNA-WARNI JODIPAN/Blimbing-Malang/26-12-2017

SEKILAS SEJARAH TENTANG KAMPUNG WARNA-WARNI

Tak kenal maka tak sayang. Jadi kita intip dulu, yuk ... sejarah terbentuknya Kampung Warna-Warni ini ...

Awalnya dari sekelompok mahasiswa Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yaitu GuysPro yang harus mengerjakan tugas kuliah praktikum PR dan Event Management di kampusnya. Mereka harus menggandeng klien yang nyata, loh ...

Akhir kata mereka mendapatkan klien dari perusahaan cat Indana Paint yang punya pabrik di kota Malang. Pada tanggal 4 Mei 2016 mereka mempresentasikan rencana mewarnai kampung Jodipan di depan direksi Indana Paint.

Sebelum dicat dengan tema "Decofresh Warnai Jodipan",  warga kampung Joodipan melakukan kerja bakti terlebih dulu untuk membersihkan kampung, baru kemudian nantinya akan dicat oleh tukang dan dengan cat yang keduanya sudah disiapkan oleh pihak Indana Paint.

Ternyata ide ini justru menjadikan Kampung Jodipan sebagai salah satu tujuan wisata Kota Malang, deh ...

Dengan demikian juga mengubah perilaku kurang baik dari warganya yang semula sering membuang sampah sembarangan menjadi lebih tertib lagi. Ditambah lagi keberadaan Kampung Warna-Warni ini ternyata juga dapat meningkatkan perekonomian warganya (suryamalang.tribunnews.com/5 September 2016).

Nah ... Sekarang kita ulas kampungnya, ya ...
Ini penampakan gerbang masuk Kampung Tridi. Itu, loh ... kampung yang ada di seberang Kampung Warna-Warni Jodipan. Bedanya kalo Kampung Tridi ini selain dicat warna-warni tembok-tembok rumahnya, juga digambari ... Maunya, sih ... gambar 3 dimensi gitu, loh ... Cuma, ya ... jangan berharap lebih sama kualitas gambarnya, ya ...

Maklumlah ... HTM-nya juga cuma Rp.2.500,- aja, sedangkan HTM Kampung Warna-Warni cuma Rp.2.000,- (jadi terlalu sadis kayaknya kalo dibandingin sama kualitas gambar dari museum 3D yang HTM-nya bisa puluhan ribu sampe seratusan ribu itu, loh ...hehehe ....).

Kalo kita bawa kendaraan roda 2, parkirnya, sih gak masalah. Bisa diparkir di halaman parkirnya kampung Tridi ini, ya ... Tapi kalo kita bawa kendaraan roda 4, sebaiknya memang diparkir di halaman stasiun Kota Baru-Malang trus kita jalan melipir, dah ... ke arah jembatan Jodipan. Naek becak juga bisa, sih ... 
Jaraknya memang nanggung, tuh ... Buat yang gak hobi jalan dan gak betah panas, ya ... sedikit jauh. Tapi kalo naek becak, juga terlalu dekat. Paling gak nyampe Rp.10.000,-

O'ya ... kalo kita datengnya pas musim liburan seperti aku tempo hari itu pas liburan akhir tahun, kusarankan datangnya sepagi mungkin, ya ... karena jam 6 pagi, kampung ini sudah menerima pengunjung, loh ... Keuntungannya selain hawanya masih segar dan tidak panas, juga jumlah pengunjungnya masih sedikit. 

Dari pengalamanku tempo hari itu, sih ... semakin siang pengunjungnya semakim mbludak dan kita sudah gak bisa bebas lagi poto-poto di spot-spot kerennya. Lah .. wong yang keliatan cuma manusia, thok, jeee ... hehehe .... gak ada spot poto yang kosong, loh ...

O'ya ... Jangan lupa juga bawa power bank, ya ... soalnya bagi kita-kita yang hobi banget mejenx, dijamin bakalan bolak-balik charge hp, tuh .... Banyak banget spot potonya yang keren-keren, loh ...  Zuerrrr .....
Begini penampakan cindera mata-nya Kampung Tridi dan stiker-nya Kampung Warna-Warni, ya .... Kalo kita masuknya dari Kampung Tridi, nanti sesudah turun dari jembatan kaca, kita bayar lagi HTM-nya Kampung Warna-Warni.
Ceileee ... ada penampakan hati-nya juga, loh .... selain payung warna-warni yang bertebaran di mana-mana ... Suit ... suit ....
Salah satu penampakan gambar 3D-nya ... kalo yang ini masih lumayan keren-lah .... hehehe ..............
Pada tanggal 9 Oktober 2017, jembatan kaca yang menjadi penghubung antara Kampung Warna-Warni dan Kampung Tridi diresmikan oleh Walikota Malang. Jembatan ini memiliki panjang 25 meter dan lebar 1,25 meter dan mampu menampung 50 orang. Inspirasinya, sih mengambil dari jembatan kaca di Tiongkok. Tapi memang gak seluruh lantai jembatannya dari kaca, ya ... Cuma sedikit saja, kok ... di tengahnya. Jadi gak seberapa ngeri pas melewatinya.
Selain dicat warna-warni, ada beberapa rumah warga yang juga diberi aksen ini itu, seperti rumah warga yang dipermak sehingga menjadi rumah bambu seperti ini, ya ...
Dibuatkan perpustakaan mini-nya juga, loh ... dengan seperangkat meja kursi dan kotak-kotak penyimpanan buku yang juga diwarna-warni.
Ada tema wayang juga di salah satu dindingnya.
Di salah satu rumah warganya juga menjual sandal jepit aneka warna seperti ini. Jadi jangan kuatir, ya ... kalo cape pake high heels, bisa beli sandal jepit juga di sini, hehehe ...
Warna-warni di mana-mana ... termasuk tembok pembatas dan anak tangganya juga ....
Salah satu dinding pembatasnya juga diberi lukisan seperti ini, ya ...

Pokoknya puaslah kalo mau poto-poto di sini. Kalo haus atau laparpun, beberapa warganya juga menyediakan makanan dan minuman yang dijual dengan harga relatif murah.

Mau selphi-selphi ... ??? Ke kampung wisata Jodipan dulu, dunk ... pilihannya ....









MALANG CITY TOUR (MACYTO)/Jalan Simpang Mojopahit 1, Malang/24-12-2017

Kalo kita pas ada di kota Malang, perlu dicoba juga, neh ... naek bis Malang City Tour (istilah kerennya, sih ... MACYTO).

Cuma karena minimnya info tentang lokasi keberangkatannya, jumlah bis berikut pelayanannya, aku sendiri kurang merekomendasikan berburu naik bis Macyto ini, ya ...

Awalnya terus terang aku juga keliru menunggu di taman Monumen Tugu (itu, loh ... taman bundar yang ada di seberangnya gedung Balaikota Malang). Soalnya dari info si ibu pemilik warung, katanya kudu antri nomer keberangkatan dulu di taman. 
Eh ... Udah nunggu dengan maniz sambil ngider disekitaran taman Monumen Tugu .... Lah, kok ... jangankan bis Macyto ... bayangannya aja, gak kunjung muncul, jeee ... hadeeeehhhh ....

Ternyata yang dimaksud taman itu adalah Taman Rekreasi Kota Malang, sodara-sodara .... (hadooohhhh .. )  yang  lokasi persisnya ada di jalan Simpang Mojopahit 1, Malang. 
Itu, loh ... di sebelahnya gedung SMA Taman Harapan Malang. 
 
Untung aku tanya lagi sama pak satpam gedung Balai Kota Malang. Itupun dibilang di Triwira ... Yo wes ... tebak-tebakan alamat dan ternyata ....... butul .............. Horeee !!!!!

Nah ... seperti poto di atas itu penampakan gerbang masuknya Taman Rekreasi kota Malang, ya ... Gak seberapa jauh kok, masuknya (sekitar 100 meter aja, sih ... kayaknya). Tapi ... perjuanganku naik bis Macyto gak berhenti sampe di situ aja, loh ... masih bersambung neh, berjuangnya  ... hehehe ...
 
2 buah bis Macyto-nya udah parkir dengan manis di halaman tamannya. Yang bikin ngeper duluan ya, pas liat antrian orang yang berjubel mau naik. Mana aku nyampe sekitar jam 9 pagi pula. Diinfokan nomor antriannya sudah habis.

Lah ... ya, gimana gak habis ... Wong bisnya sendiri cuma ada 2 buah, masing-masing cuma muat 40 orang. 20 orang duduk di bagian bawah dan 20 orang lagi duduk di bagian atas bis. Total sekali keberangkatan cuma untuk 80 orang peserta. Padahal yang antri masih berjubel ... hadoohhh ....

Jadi buat kita-kita yang penumpang umum ini, kesempatan naik bis Macyto cuma di hari Minggu aja, ya ... Antri nomor-nya juga mulai jam 8.30 pagi atau pas bis Macyto-nya udah nyampe aja, dah ... Udah gitu kudu mau desak-desakan antri, yaaa ... (oh, tidaaaakkk ...).

Semula aku dijanjikan sama salah satu pak sopirnya supaya datang lagi hari Rabu barengan sama penumpang yang berombongan. Untungnya aku gak langsung pulang, ya ... Begitu bis Macyto-nya mau berangkat, aku pastikan lagi sama pak sopir yang tadi.

Eh ... dia sampe menghela nafas mandengin aku, loh ... Mungkin dipikirnya kok, ngeyel banget, ya diriku ini ... hehehe ... Trus dia nanya memangnya buat berapa orang ... Aku bilang cuma buat 1 orang aja, loh ...masa gak bisa nyelip-nyelip. Trus dia nanya lagi asalku dari mana. Aku bilang dari luar kota Malang. (O'ya ... KTP-nya jangan lupa dibawa, ya ... soalnya kalo perlu, bisa kita tunjukkan juga). Dan ... akhirnya sesudah dia berunding sama sopir satunya lagi, aku jadi naik bis Macyto juga, loh .... Huraaaaa ... makasih ya, pak sopir (yang baik hati dan tidak sombong, hehehe ...).
Begini penampakan interior tempat duduk bawahnya. Bersih, nyaman dan ademmmm ....
Lah ... kalo yang ini penampakan tempat duduk yang ada di atas bis Macyto ... serba terbuka dan butul-butul dijemur, yaaa ... hehehe ...
Jangan kuatir, deh ... semua penumpang pasti kebagian pengalaman duduk di atas maupun di bawah bis Macyto. Soalnya di museum Brawijaya, penumpangnya akan di-rolling duduknya.

Bisa jadi pas kita duduk di bawah, sih ... sensasi-nya gak jauh beda sama pas kita naik kendaraan pribadi sendiri, yaaa ... Cuma memang sensasi yang duduk di atas betul-betul seperti lagi ada di arena permainan, loh ...

Masalahnya di kota Malang ini masih banyak pohon yang rimbun. Jadinya masih banyak dahan, ranting, dedaunan termasuk .... opsss ... segala macam kabel listrik, kabel telepon ... yang menjuntai persis dekat kepala penumpang. Hahaha ... sebentar-sebentar kita pada merunduk. Untungnya ada petugas wanita yang selalu siap mengingatkan para penumpang. Perjalanan berisiko, nehhh ...

Kita cuma dibawa mengelilingi (sebagian kecil) jalan-jalan protokol yang ada di kota Malang, ya ... Coba, deh ... ada rekaman suara yang diperdengarkan kepada para penumpang untuk menjelaskan jalanan ataupun bangunan bersejarah yang dilewat bis Macyto ini, yaaa ... 
So pastinya akan memberikan nilai lebih serta menambah pengetahuan tentang kota Malang ini, ya ...  dan pastinya juga lebih berkesan bagi para penumpangnya.

 




Selasa, 09 Januari 2018

BALAIKOTA MALANG/Jalan Tugu nomor 1,Malang/24-12-2017


BALAIKOTA MALANG
Sebelum tahun 1914 kota Malang masih merupakan daerah bagian dari Karesidenan Pasuruan, ya ... Barulah setelah kota Malang dinaikkan statusnya menjadi pemerintah kota pada tanggal 1 April 1914, kota Malang berhak memerintah daerah sendiri dengan dipimpin oleh seorang Walikota.

Tapi meskipun walikotanya telah ditunjuk, sampai tahun 1926 kota Malang masih belum memiliki kantor balaikota yang permanen. Pekerjaan pembangunan Balai Kota tersebut baru dilaksanakan pada tahun 1927-1929.

Bangunannya sendiri terdiri dari 2 lantai dengan orientasi menghadap utara selatan. Dan karena letak dan bentuk utama lokasinya itulah, maka gedung Balaikota seolah-olah ingin menguasai lapangan bunder (yang sekarang terdapat monumen Tugunya itu, loh ... ).

Pada tanggal 29 Juli 1947, tentara Belanda menyerbu Malang yang dikenal sebagai Agresi Militer Belanda 1. Dan sebelum tentara Belanda menduduki kota Malang, gedung Balaikota sudah dibumihanguskan oleh para pejuang Indonesia. Barulah setelah perang kemerdekaan gedung Balaikota ini kembali dibangun (Sejarah Berdirinya Balaikota Malang/nGalamedia LABS).

Begitu, deh ... sejarah singkat berdirinya gedung Balaikota Malang, ya ... 
Sekarang bangunan ini dipergunakan sebagai kantor Walikota Malang dan tentu saja kita gak bisa keluar masuk lihat-lihat seenaknya saja karena ada petugas yang menjaganya. Gitu, deh ...






Senin, 08 Januari 2018

MONUMEN TUGU/Jalan Tugu nomor 1, Malang/24-12-2017

Haiiii ... liburan akhir tahun ini aku hopla-hopla ke Malang, loh ...
Ada beberapa tempat wisata yang sempat aku kunjungi dan aku menuliskannya secara berseri lewat blog ini. Intip terus, ya ...

MONUMEN TUGU 
Alun-alun Tugu Malang yang saat ini menjadi salah satu landmark kota Malang dulunya bernama Alun-alun Bunder karena memang bentuknya yang melingkar (kalo kotak, mungkin namanya beda lagi, ya ... hehehe ...).

Taman cikal bakal alun-alun Tugu ini dibangun pada masa penjajahan Belanda, loh ... dan awalnya taman ini diberi nama JP Coen Plein sebagai bentuk penghormatan kepada Gubernur Jenderal Jaan Pieterzoen Coen. Sedangkan tujuan dibangunnya taman ini sebagai pelengkap halaman gedung kegubernuran Hindia Belanda.

Taman ini juga menjadi saksi bagi perkembangan kota Malang, man temans ... termasuk saat status Malang berubah menjadi Kota Madya di tahun 1914.

Begitu juga pada saat dibangunnya gedung Balai Kota (tahun 1930-an) sebagai gedung pusat pemerintahan Kota Malang di sisi sebelah selatan taman. Pembangunan itu menjadi bagian dari rencana perluasan kota.

Setahun setelah kemerdekaan (17 Agustus 1946), batu pertama pembangunan Monumen Tugu ini diletakkan dan monumen ditandatangani oleh Ir. Soekarno dan A.G.Suroto.

Dalam Agresi Militer 1 (tahun 1947), Belanda sempat menghancurkan Monumen Tugu yang pada saat itu pembangunannya sudah mencapai 95% sebagai bentuk kekesalan mereka atas kegigihan arek-arek Malang dalam mempertahankan wilayahnya.

Barulah pada tahun 1953, Monumen Tugu ini akhirnya dibangun kembali oleh pemerintah kota Malang dan diresmikan oleh Ir. Soekarno (presiden RI waktu itu).

Omong-omong, pembuatan Monumen Tugu ini sendiri punya beberapa makna, loh ... Yuk, kita cari tau, ya ...


Karena letaknya yang berada di tengah-tengah alun-alun Tugu melambangkan pusatnya kelima penjuru arah, yaitu selain arah utama yang menuju ke gedung Balaikota, keempat arah lainnya mewakili jalan raya yang bermuara di alun-alun ini.

Puncak monumen yang berbentuk bambu tajam melambangkan bambu runcing sebagai senjata yang dipergunakan bangsa Indonesia untuk mengusir penjajah.

Sedangkan rantai menggambarkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang tidak dapat dipisahkan oleh penjajah.

Makna lainnya terdapat pada bintang yang mempunyai 17 pondasi dan 8 tingkat serta tangga yang berbentuk 4 dan 5 sudut. Kombinasi angka ini melambangkan tanggal kemerdekaan Republik Indonesia, yaitu tanggal 17 Agustus 1945.

Sementara itu bunga teratai yang berwarna merah dan putih yang berada di dalam kolam sekeliling monumen Tugu melambangkan keberanian dan kesucian, sesuai dengan warna bendera Indonesia (Sejarah Alun-alun Tugu Malang oleh Akaibara, 15 Desember 2015).

Ok, deh ... kalo mau jalan-jalan ke sini, sebaiknya di pagi atau sore hari, ya ... Soalnya zuerrr .... panaz bingit di siang hari berhubung gak ada tempat berteduh sama sekali. Jadinya kalo panaz, ya kepanazan ... kalo ujan, ya keujanan. Gitu, deh ...

Hati-hati juga ya, kalo mau menyeberang berhubung lokasinya ada di tengah-tengah jalan raya yang gak ada sepinya. Nah, loh ...

Tamannya sendiri bersih dan terawat rapi. Gak ada biaya masuk alias gratis ... tis ... dan terbuka bagi umum selama 24 jam. Cuma kalo dibuat nginep di kursi tamannya, bakalan kena usir, kalee, yaaa ... hehehe ...

Cucok bingit, neh buat kita-kita ini yang hobinya poto-poto (hmm ... hmm ...). Sayangnya kenapa si bunga plastik segede-gede gitu bisa ikutan nongkrong di tengah-tengah tamannya, ya ...
Mengurangi keindahannya saja ... ah ... uh ...


Sabtu, 06 Januari 2018

De Javasche Bank Agentschap (Bank Indonesia)/Surabaya/3 Desember 2017


Awalnya bangunan ini bernama De Javasche Bank Agentschap.
Didirikan pada tanggal 14 September 1829 lalu dinasionalisasi dan menjadi Bank Indonesia pada tahun 1953, pindah ke jalan Garuda dan dipindahkan ke gedung baru di jalan Pahlawan 1, Surabaya pada tahun 1973. Kalau kita lihat pintu masuknya dulu ada di sebelah pojok kiri bangunan, ya ...
Begini penampakan pintu masuk putarnya.
Seluruh ruangannya lapang tanpa adanya sekat-sekat. Ternyata untuk pengaturan setiap ruangannya, dipergunakan lantai berwarna yang berbeda-beda sebagai patokannya, loh ...
Jadi lantai yang berwarna merah itu dipergunakan untuk meletakkan meja tulis dan kursi serta perlengkapan kantor lainnya.

Lalu lantai yang berwarna hitam dan putih itu sebagai pembatas ruangannya. Sedangkan lantai yang berwarna hitam sebagai jalannya.
Wow ... kreatif, ya ...
Yuk ... sekarang kita lihat bagian teller-nya. Gak seperti penampakan ruangan di bank yang sekarang ada, ternyata dulu disekat-sekat seperti bilik-bilik telepon umum itu, loh ... lengkap dengan pintunya yang dibuat seperti kawat nyamuk. 
Oopss ... pemandu wisatanya, um Aji lagi godain teler si mbak peserta, tuh ... kayaknya ... hehehe ......

Lanjut, yuk ... ke ruangan brankasnya ...
Wow, tebal pintu brankasnya aja ada tuh, sekitar 20 cm. Berat bingit ... hufff ...












Merek-nya Lips yang diproduksi serta didatangkan langsung dari Belanda.
Nah, sekarang kita lihat yuk, modelnya cctv 100 tahun yang lalu.

Kalo ada pencuri masuk lewat gang sempit berpintu teralis itu, maka pada pintu lain di ujung gangnya dipantulkan keberadaannya melalui cermin yang diletakkan sedemikian rupa.

Kemudian kedua pintu teralisnya langsung ditutup oleh petugas keamanan bank dan si pencuri akan terjebak di dalamnya. Nantinya oleh petugas bank diserahkan kepada polisi yang segera memasukkan pencurinya ke dalam penjara yang ada di dekat lokasi.
Prakktis, ya ...
Sekarang kita lihat beberapa peralatan yang dipergunakan bank jaman dulu, ya ...
Ini adalah mesin hitung, sortir dan perusak uang kertas yang punya fungsi untuk menghitung uang kertas, menyortir uang kertas yang bukan berasal dari Bank Indonesia.
Dan bila uang kertas tersebut dianggap sudah tidak layak untuk diedarkan, maka mesin ini akan menghancurkan uang kertas tersebut.
Kalo ini namanya mesin perusak uang kertas di mana uang kertas yang sudah tidak layak edar dimasukkan ke dalam kotak kaca. Kemudian lempengan dalam kotak kaca dijalankan dan mesin potong akan merajangnya sampai halus lalu diayak. Hasil ayakannya akan keluar melalui pipa lalu ditampung dalam karung dan siap dibakar. Wow ... betul-betul gak berbentuk uang kertas lagi, ya ...
Kalo ini namanya Perforator berwarna hitam dan berbahan besi dengan merek Schmidt. Ada sebuah tuas di bagian ujung atasnya. Tuas yang ujungnya berbentuk bulat seperti bola berwarna hitam ini berfungsi untuk memberi tekanan pada besi-besi yang ada di bagian bawahnya untuk melubangi kertas.
Sedangkan mesin ini bernama Mnul yang fungsinya untuk menghitung uang logam.

Bagaimana ... ? Asek punya'kan acara jalan-jalan sambil mencari tau sejarah masa lalu bangsa ini ... Ok, deh ... ikutin terus, ya ... acara jalan-jalan pake SHT ini yang sesi keduanya ...





















JALUR 1 SURABAYA HERITAGE TRACK/Surabaya/3 Desember 2017

Hayuukkk ... sekarang kita ikutan jalan-jalan jalur 1 dari bis Surabaya Heritage Track (SHT), yaaa .... Tujuan utamanya Balai Pemuda, Balai Kota dan Museum Bank Indonesia.
Selama perjalanan, kita gak dibiarin bengong, loh ... karena pemandu wisatanya akan menjelaskan juga sejarahnya bangunan tua peninggalan bersejarah yang dilewati oleh bis SHT ini. Seru, khan ....

Ok, deh ... 
1. Bangunan tua pertama yang kita lewati adalah sebuah museum (dekat pura) yang pernah menjadi tempat kos-nya Soekarno (Presiden RI 1) pada saat beliau bersekolah di Surabaya dan kos di rumah guru besarnya HOS Cokroaminoto dan sekarang dijadikan museum HOS Cokroaminoto.

2.  Selanjutnya kita melewati gedung yang sampai saat ini masih berfungsi sebagai PLN untuk wilayah utara 1 Surabaya  yang didirikan pada tahun 1909 dan semasa jaman Belanda bangunan ini pernah digunakan sebagai kantor Aniem, yaitu Perusahaan Umum Pemerintah Hindia Belanda.
3.  Bis SHT ini juga melewati jalan GEMBLONGAN yang asal katanya diambil dari kata gemblong. Itu, loh ... sejenis jajanan khas yang punya nama gemblong. Jajanan ini berasal dari ketan di mana di dalamnya diisi gula merah. Ternyata dulu di sepanjang jalan ini banyak penjual jajanan gemblong ini sehingga akhirnya dijadikan nama jalan, deh.

4.  Selain itu kita juga diajak melewati jalan TUNJUNGAN yang lagi-lagi asal katanya diambil dari kata tunjung. Apakah itu tunjung, sodara-sodara ... ? Ternyata yang dimaksud adalah teratai putih, ya ... dan dulunya bunga ini banyak ditemukan di sepanjang jalan ini. Akhir kata dijadikan nama jalan, deh ... Simpel banget gak pake ribet, ya ... orang kita kalo ngasih nama jalan ... hehehe ...

5.  Hotel MAJAPAHIT.
Nah ... Bangunan tua ini didirikan pada tahun 1910 oleh pengusaha Armenia (L.M.Sarkies) dan diresmikan pada tahun 1912 sebagai hotel Oranje. Di bawah penjajahan Jepang namanya berganti menjadi hotel Yamato dan pada hari ini kita kenal dengan nama Hotel Majapahit.

Dulu di atas bangunan tua ini pernah terjadi peristiwa perobekan bendera warna biru oleh arek-arek Suroboyo, loh ... Iya ... dari bendera Belanda yang semula berwarna merah, putih dan biru dirobek warna birunya sehingga menjadi warna bendera kebangsaan kita, deh ... pada tanggal 19 September 1945.

6.  Taman APSARI
Kalo taman ini didirikan pada tahun 1890 di depan kantor Surabaya Residence (Grahadi) oleh Residen Kroesen yang memerintah Surabaya pada tahun 1888-1896.
Di tengah-tengah taman terdapat patung Gubernur Soeryo yaitu gubernur pertama Surabaya (tahun 1945-1948) setelah Indonesia merdeka.

Dulunya taman ini dipergunakan sebagai taman berkuda, loh ... dan dipergunakan sebagai rumah dari seorang pejabat Belanda dengan pintu depannya yang menghadap ke sungai Kalimas.

Maklum, sodara-sodara ... dulunya jalur utama Surabaya lewat sungai bukannya lewat jalan raya seperti sekarang ini. Akhirnya banyak dari bangunan peninggalan bersejarah dulu yang kalo sekarang dipergunakan oleh pemerintah saat ini, letak pintunya diubah jadi berlawanan arah. Gitu, deh ...

7.  GRAHADI
Bangunan ini didirkan pada tahun 1795. Awalnya dirancang menghadap Sungai Kalimas dan dipergunakan sebagai tempat tinggal resmi Administrator Wilayah Timur. Karena pada saat itu sungai berfungsi sebagai moda transportasi utama bagi masyarakat. Saat ini, bangunan menghadap ke jalan raya dan berfungsi sebagai kediaman resmi Gubernur Jawa Timur. Nah ... kan terbukti soal pintu yag diubah letaknya itu, loh ... hehehe ...

8.  BALAI PEMUDA
Kalo bangunan ini awalnya bernama Simpangsche, dibangun pada tahun 1907 dan awalnya sebagai salah satu tempat hiburan dan tempat orang-orang Eropa (khususnya Belanda) berkumpul di Surabaya.

Memiliki arsitektur yang khas dan unik, terlihat dalam bentuk kubah, kusen jendela dan kusen pintu serta motif kaca yang mendekorasi bangunan.

Bangunan ini juga mengandung bukti rasialisme yang dipraktekkan pada masa penjajahan karena hanya orang kulit putih yang diizinkan masuk seperti adanya larangan yang tertulis bahwa pribumi dan anjing dilarang masuk.

Pada masanya merupakan klub paling elite, loh ... di Surabaya di mana bangunan yang berwarna putih dipergunakan sebagai restoran, terpisah dengan bangunan yang dipergunakan sebagai rumah dansa. Gak tumplek blek jadi satulah ...

8.  Patung SUDIRMAN (panglima besar TNI-RI)
Lanjuttt ... setelah bis SHT-nya berhenti sebentar di gedung Balai Pemuda buat memberi kesempatan buat kita-kita ini menyaksikan pertunjukan reog Ponorogo, perjalanan dilanjutkan melewati patung SUDIRMAN yang ada di taman kota di tengah jalan raya.

9.    BALAI KOTA
Yaahhh ... berhubung di gedung Balai Kota lagi ada acara, kita gak bisa turun di tempat ini. Aku sudah pernah mengulasnya sebelum tulisan ini. Silakan diintip, yaaa .... (KELILING SURABAYA DENGAN RP.7.500,-).

10. Jalan Walikota Mustajab (ONDOMOHEN WEG)
Pada jamannya, jalan ini dikenal sebagai sebuah area bagi para penjual barang-barang produksi kerajinan tangan. Sekarang terkenal dengan sate keloponya.

11. Sungai KALIMAS
Disebut Kalimas, karena dulunya sungai ini airnya jernih sekali sehingga bisa memantul seperti emas.
Dermaga ujung dulunya terletak di jembatan merah, loh ...

Tanjung Perak sendiri baru didirikan pada tahun 1910 oleh Belanda dari asalnya yang semula tanah gambut kemudian dipadatkan. Disebut perak karena banyaknya uang yang harus dikeluarkan untuk pembangunannya. Gitu, deh ...

12. SIOLA
Bangunan awalnya dipergunakan sebagai pusat belanja berbahasa Inggris Laidlaw & Co yang menjadi landmark dari jalan Tunjungan.

Selama jaman penjajahan Jepang bergati nama menjadi Toko Chiyoda yang menjual tekstil, koper dan sepatu.

Dari tahun 1950-1998 pusat perbelanjaan yang hancur ini dibangun kembali dan berganti nama menjadi SIOLA yang mengambil inisial nama para pemiliknya, yaitu Soemitro, Ing Wibisono, Ong, Liem dan Ang.

Saat ini bangunan dikelola oleh pemerintah Surabaya dan difungsikan sebagai Museum Surabaya serta layanan perijinan masyarakat Surabaya.

13. Mall WIJAYA
Sekitar tahun 1990 dikenal sebagai arena permainan bowling bagi masyarakat Surabaya. Saat ini beralih fungsi menjadi BG Junction.


14. Tugu PAHLAWAN
Didirikan tahun 1951 untuk memperingati pertempuran 10 Nopember, dikenal sebagai tugu kakaknya Tugu Monas di Jakarta karena Tugu Monas baru didirikan pada tahun 1961. Jadi jangan keliru, ya ... kakaknya Monas bukan dedeknya ... hehehe ...

15. Geraja Kelahiran Santa Perawan  Maria
Gereja Kepanjen dengan desain Neo-Gothic ini merupakan gereja Katolik tertua di Surabaya dan dibangun oleh arsitek Belanda Westmaesin pada tahun 1889.

Sebelumnya gereja ini terletak di sudut jalan Kepanjen dan Kebonrojo.

16. Masjid KEMAYORAN
Masjid ini merupakan hadiah dari pemerintah kolonial Belanda dan dibangun pada tahun 1844. Di mesjid ini pernah dilakukan penyerahan senjata dari tentara Indonesia saat tentara Inggris melakukan perang ultimatum selama perang kemerdekaan.

17. Museum KESEHATAN
Gedung ini pernah dikenal dengan Rumah Sakit Kulit dan Kelamin yang dibangun oleh Dr M.Soetopo pada tahun 1951.
Pada tahun 1990 menjadi Museum Kesehatan yang didirikan oleh Dr.dr.Haryadi Soeparto DOR MSc.

Masyarakat juga mengenalnya sebagai museum santet karena di tempat ini berbagai macam alat santet diperlihatkan. Hiyyyy ....

18. Jalan RAJAWALI
Pada jamannya, di jalan ini berdiri sebuah gedung bernama Rajawali yang dipergunakan sebagai showroom mobil Timor, milik Tomi Soeharto. Sekarang dipergunakan sebagai tempat pendaftaran SPG.


19. Gedung CERUTU/LIPSTIK
Bangunan ini disebut demikian karena menaranya menyerupai cerutu yang dibangun pada tahun 1916 dan pernah ditempati oleh perusahaan gula dan juga dipergunakan sebagai kantor perusahaan Bridgestone Tine.


20. Gedung BANK INDONESIA
Awalnya bernama De Javasche Bank Agentschap, Surabaya.
Kantor Bank Indonesia ini didirikan pada tanggal 14 September 1829 lalu dinasionalisasi dan menjadi Bank Indonesia pada tahun 1953, pindah ke jalan Garuda dan dipindahkan ke gedung baru di jalan Pahlawan 1, Surabaya pada tahun 1973.

Ok ... di gedung BANK INDONESIA ini, kita para peserta bis SHT turun untuk berkeliling. Hayukkk ... aku mau berbagi infonya pada tulisan selanjutnya. Ikutin terus, yaaa ....